Jumat, 19 Oktober 2012

TEKNIK DAN PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN


BAB VI

TEKNIK DAN PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN
Tujuan Pembelajaran
          Setelah mengikuti secara aktif kegiatan proses pembelajaran, mahasiswa yang mengambil mata kuliah Administrasi dan Supervisi Pendidikan diharapkan akan dapat:
1.    Menuliskan macam-macam pendekatan yang dapat digunakan dalam Supervisi Pendidikan.
2.    Membedakan pendekatan supervisi klinis dengan supervisi non klinis (biasa).
3.    Menjelaskan teknik-teknik supervisi pendidikan yang bersifat individual maupun yang bersifat kelompok.
4.    Menjelaskan kebaikan dan kelemahan teknik supervisi dalam bentuk kunjungan kelas.
5.    Mebedakan proses supervisi pendidikan didasarkan inspeksi dan tidak didasarkan Inspeksi.
6.    Menjelaskan peranan dan sikap supervisor pendidikan sebagai pemimpin pendidikan.
7.    Menjelaskan ketrampilan-ketrampilan yang harus dimiliki oleh supervisor pendidikan.
8.    Menggunakan beberapa instrumen supervisi pendidikan dalam melak-sanakan tugas supervisi di sekolah.


PEMBAHASAN MATERI PEMBELAJARAN
A.   PENDEKATAN DALAM SUPERVISI PENDIDIKAN
Tujuan akhir supervisi pendidikan ialah peningkatan situasi belajar mengajar, peningkatan proses dan hasil belajar murid. Untuk mencapai tujuan tersebut para supervisor lalu menggunakan pendekatan (approach) tertentu dengan maksud untuk lebih mengenal berbagai masalah yang dihadapi guru-guru  di sekolah. Karena dengan menggunakan pendekatan        di dalam supervisi, orang akan mengenal lebih dekat ma­salah dan dengan pengenalan tersebut akan lebih mudah menentukan pendekatan macam mana atau jenis pendekatan apa yang paling cocok untuk setiap masalah yang harus diselesaikan.
Untuk memperbaiki atau meningkatkan situasi belajar mengajar           yang lebih baik melalui peningkatan kemampuan  guru, maka dalam pelaksanaan supervisi pendidikan dikenal beberapa pendekatan yang dapat ditempuh supervisor, antara lain :
a.   Pendekatan klinis dan pendekatan non klinis (biasa)
Supervisi klinis adalah suatu bentuk bantuan profesional yang diberikan kepada  guru/calon guru berdasarkan kebutuhannya melalui siklus yang sistematik dalam perencanaan, pengamatan yang cermat,  dan pemberian balikan yang segera serta obyektif tentang penampilan mengajarnya yang nyata, untuk meningkat ketrampilan mengaiar dan sikap profesionalnya. Pengertian ini menunjukkan bahwa di dalam supervisi klinis terdapat tiga fase kegiatan, yakni kegiatan pertemuan perencanaan, observasi kelas. dan kegiatan pertemuan balikan untuk menganalisis secara teliti dan obyektif berbagai perubahan tingkah laku dan penampilan guru/calon guru dalam mengajarnya  di kelas.
Dalam pelaksanaan supervisi, pendidikan, kedua pende­katan tersebut di atas secara garis besarnya mempunyai persamaan dan perbedaan tertentu yang dapat dibandingkan antara lain :
Persamaannya : Baik supervisi klinis maupun non klinis keduanya  mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk meningkatkan ketrampilan mengajar guru yang lebih baik dalam PBM; keduanya merupakan proses pemberian bantuan untuk meningkatkan mengajar dan sikap profesional guru sesuai dengan situasi dan kondisi kelas; menggunakan alat (instrumen) tertentu dalam menilai kemampuan mengajar guru di kelas, dan dengan teknik observasi langsung (tatap muka), pertemuan pribadi dalam proses maupun setelah supervisi berlangsung (berakhir). Walaupun demikian, kedua pendekatan ini mempunyai perbedaan-perbedaan yang khas, yang dapat dibandingkan sebagai berikut :
Supervisi Klinis
Supervisi Non Klinis
-



-



-



-



-


-



-



-



-

Bersifat demokratis melalui proses musyawarah an­tara supervisor dan guru.

Kegiatan yang disupervisi berdasarkan atas usul guru/calon guru.

Hubungan guru dengan super- visor bersifat kolegial dan interaktif.

Berorientasi penuh kepada kebutuhan guru/calon guru.


Perhatian terpusat pada  berapa ketrampilan mengajar guru tertentu.
Hasil supervisi didasar- kan atas kenyataan obser­vasi langsung di kelas.

Instrumen supervisi dibuat dan disepakati bersamaan antara supervisor dan guru.

Balikan hasil supervisi berupa bimbingan yang bersi­fat pemberian bantuan.

Dan lain sebagainya.
-



-



-



-



-


-



-



-



-
Cenderung otoriter, pelak-sanaannya didasarkan atas ke­hendak supervisor.

Kegiatan yang disupervisi tidak didasarkan atas usulan guru/calon guru.

Hubungan supervisor dengan guru bersifat hirarkis dan sepihak.


Tidak selamanya berorientas kepada kebutuhan guru tertentu pada kebutuhan supervisor.

Pusat perhatian tidak ketrampilan tertentu, bersifat Umum dan luas.

Hasil supevisi sering didasarkan atas perasaan supervisor.


Instrumen supervisi telah dibuat oleh aparat yang berwenang tanpa disertakan.

Balikan hasil supervisi diwujudkan dalam bentuk arahan/perintah/ instruksi.

Dan lain sebagainya.





b.   Pendekatan kelompok dan individual
Dalam pelaksanaan supervisi pendidikan dapat digunakan pendekatan baik kelompok maupun individual sesuai dengan belakang, masalah serta jenis dan sifat masalah yang dihadapi. Apabila sifat masalah yang dihadapi bersifat umum dan dialami oleh hampir semua guru di suatu sekolah         maka teknik supervisi yang paling tepat adalah melalui pendekatan kelompok, tetapi jika masalah tersebut hanya dialami oleh beberapa orang guru secara tersendiri, maka pendekatan yang paling tepat adalah pendekatan secara individual. Dari segi jumlah guru harus dibina, maka pendekatan kelompok lebih efektif jumlah guru yang dibina lebih banyak dibanding dengan pendekatan individual dimana guru yang dihadapi secara sendiri-sendiri.
c.    Pendekatan langsung (direct techniques) dan pendekatan tidak langsung (indirect techniques)
Pendekatan supervisi langsung yaitu cara pelaksanaan supervisi dimana supervisor langsung berhubungan secara tatap muka dengan mereka yang disupervisi, tanpa menggunakan media tertentu. Misalnya kunjungan kelas, pertemuan pribadi, lokakarya, rapat staf, dan sebagainya. Sedangkan pendekatan tidak langsung yaitu cara pelaksanaan supervisi yang ditempuh oleh supervisor dengan menggunakan alat atau media tertentu. Misalnya dalam bentuk media tulis berupa  kuesioner (angket), papan buletin, kursus tertulis, perpustakaan jabatan, surat dinas atau edaran, dan lain sebagainya.
d.   Pendekatan lengkap dan pendekatan tidak lengkap
Kegiatan supervisi di sekolah dapat dilaksanakan secara lengkap dan dapat pula secara tidak lengkap sesuai dengan kebutuhan supervisor. Supervisi lengkap adalah kegiatan supervisi yang meliputi semua unsur (komponen) yang ada di sekolah itu, baik guru, murid, tenaga administrasi, alat kelengkapan pendidikan/kantor, serta situasi dan kondisi dari semua unsur-unsur tersebut. Misalnya supervisi terhadap :
(a)  Murid;  kegiatan belajar dan hasil belajarnya;
(b) Guru;  pelaksanaan proses belajar mengajar, persiapan mengajar, sikap dan kemampuan profesionalnya, dsb;
(c)  Tenaga administrasi;  kedisiplinannya, kemampuan kerjanya, hasil kerjanya (prestasi kerja);
(d) Perlengkapan; fasilitas gedung, keadaannya, kelengkapannya, pemeli-haraan dan penggunaannya;
(e)  Situasi/kondisi; hubungan antara murid dengan murid, murid dengan guru, antara sesama guru, keamanan, kesehatan (kebersihan), dan sebagainya.
Sedangkan supervisi tidak lengkap yakni pelaksanaan supervisi yang         hanya ditujukan pada aspek tertentu saja, misalnya untuk pembinaan dan peningkatan kemampuan mengajar guru dalam PBM, maka supervisi hanya meliputi segi-segi pembinaan sebagai berikut:.
(a)  Tujuan khusus belajar mengajar;
(b) Materi dan kegiatan belajar mengajar;
(c)  Metode (cara mengorganisir kegiatan belajar murid);
(d) Cara menggunakan alat-alat pelajaran/media pelajaran;
(e)  Cara mengevaluasi (menilai) proses dan hasil belajar murid-murid;
(f)   Cara membimbing dan melayani murid yang mengalami kesulitan        belajar; dan
(g) Reaksi mental guru-guru terhadap tugas-tugas mereka.
          Dari uraian di atas telah memberikan gambaran secara garis besar kepada kita, bahwa supervisi lengkap dapat dilakukan baik dalam bidang edukasi maupun dalam bidang administrasi yang meliputi semua unsur         yang ada di sekolah. Hasil supervisi lengkap berupa data/informasi          yang dapat digunakan untuk pembinaan personil sekolah dan sebagai           bahan penyusunan konduite. Sedangkan supervisi tak lengkap hanya dimaksudkan untuk memperoleh bahan masukan bagi usaha pembinaan          dan pengembangan kemampuan mengajar guru yang lebih baik.
B.   TEKNIK TEKNIK SUPERVISI  PENDIDIKAN
Supervisi pendidikan yang telah dibahas sebelumnya adalah merupakan konsep dan barulah dapat dikonkritkan apabila dilak­sanakan lewat teknik-teknik supervisi berikut ini. Dalam situasi sekarang ini mungkin tidak semua teknik supervisi yang dibeberkan di bawah ini dapat dilaksanakan oleh supervisor, akan tetapi sebagai bahan bacaan perlu disodorkan sebagai rasep ­dapat dipilih oleh masing-masing supervisor        untuk dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.       Model pendekatan dalam supervisi pendidikan seperti telah dijelaskan sebelumnya yakni pendekatan berdasarkan atas banyaknya guru yang dibimbing dapat di bedakan atas (a) teknik supervisi yang bersifat individual, dan (b) teknik supervisi yang bersifat kelompok.
(Piet A. Sahertian dan Frans Mataheru, 1982 45 dst.) menjelaskan teknik-teknik supervisi pendidikan tersebut sbb :
1.   Teknik  Supervisi yang  bersifat individual (Individual technique)
Teknik supervisi yang, bersifat individual dipergunakan apabila            orang yang disupervisi dihadapi secara perorangan biasanya dilakukan terhadap individu-individu yang yang mempunyai masalah khusus                   dan bersifat pribadi. Teknik supervisi yang bersifat individu ini dapat dijelaskan atas beberapa macam, yakni sebagai berikut:
1)   Kunjungan kelas (Glassroom visitation)
Untuk mengetahui lebih dekat/nyata tentang belajar mengajar          guru di kelas, seorang kepala sekolah, penilik pengawas biasanya mengadakan kunjungan pada setiap kelas dimana guru-guru sedang      mengajar. Tujuannya untuk menolong guru-guru memecahkan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dan mempelajari sifat dan kualitas cara belajar anak dan bagaimana guru membimbing murid-muridnya. Tujuan lain adalah untuk memperoleh data/informasi tentang situasi belajar mengajar yang berfungsi membantu pertumbuhan profesional guru.
Teknik supervisi dalam bentuk kunjungan kelas ini dapat dibagi atas :
a.   Kunjungan tanpa pemberitahuan sebelumnya
Seorang supervisor secara tiba-tiba mengunjungi kelas sementara guru sedang mengajar. Kunjungan semacam ini biasanya tidak dirancang (didisain) sebelumnya (secara kebetulan) dan mungkin direncanakan oleh supervisor dengan maksud dan tujuan tertentu.  Jenis kunjungan ini mempunyai  kebaikan dan keburukan tertentu.
Kebaikannya:
Supervisor dapat mengetahui keadaan yang sesungguhnya, sehingga dapat menyediakan bantuan/pertolongan yang diperlu-kan/dibutuhkan oleh guru-guru yang disupervisi.
Guru-guru selalu siap melaksanakan tugasnya dengan baik.
Suasana demikian berpengaruh terhadap suasana belajar murid-murid secara wajar.
Kelemahannya:
Supervisor dianggap tidak demokratis dan tidak kooperatif.
Guru-guru merasa bingung dan berprasangka bahwa kunjungan tersebut akan menilai tugas-tugas guru dan mencari-cari kesalahan saja.
Menimbulkan hubungan yang kurang baik, karena itu guru-guru tidak merasa senang dikunjungi.
b.   Kunjungan dengan pemberitahuan sebelumnya
Sebelum suatu kunjungan dimulai, supervisor telah menyam-paikan langsung maupun tidak langsung, atau berdasarkan jadwal kunjungan yang telah direncanakan tentang waktu kunjungannya berbagai kelas atau sekolah disampaikan kepada gu­ru-guru atau sekolah yang, akan dikunjunginya.
Keuntungannya:
Guru-guru telah siap menunggu waktu pelaksanaan supervisi.
Adanya pembagian waktu yang merata bagi semua guru-guru yang memerlukan bantuan supervisor.
Tercapainya efisiensi kerja dan meningkatkan PBM.
Kelemahannya:
Guru-guru merasa tertekan menunggu gilirannya disupervisi.
Kemungkinan adanya guru yang disupervisi terlalu lama sehingga  guru lainnya kurang mendapat kesempatan yang cukup.
Kemungkinan lainnya kurang mendapat kesempatan yang cukup.
Sebagian guru-guru akan membuat persiapan yang memungkinkan supervisor sulit menemukan kelemahan mereka. Hal ini tentunya akan merugikan guru-guru itu sendiri.
c.    Kunjungan atas dasar undangan guru
Kebanyakan guru-guru merasa enggan mengundang supervisor untuk mengamatinya pada saat ia melakukan tugas mengajar. Guru-guru masih belum terbuka menerima kunjungan semacam  ini, apalagi yang namanya supervisor umumnya guru merasa tidak senang untuk disupervisinya        jika hanya menilai kemampuannya.
Keuntungannya:
Supervisor akan dapat memperoleh pengalaman belajar mengajar yang ia sendiri belum memilikinya.
Guru yang kurang mampu akan memperoleh tambahan pengala­man jabatan yang lebih banyak, dengan demikian ia dapat menilai cara mengajarnya sendiri.
Memungkinkan terciptanya hubungan yang harmonis antara guru-guru dengan supervisor.
Kelemahannya:
Ada kemungkinan terjadi manipulasi tingkah laku dari pihak guru-  guru dengan membuat suasana yang tidak wajar, dibuat-buat, misalnya pada saat itu segala sesuatu dipersiapkan secara mantap, padahal di lain waktu keadaanya tidak demikian.
Kesulitan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
2)   Observasi Kelas (Class-room Observation )
Observasi kelas biasanya dilakukan melalui dua cara yaitu dengan cara observasi  langsung (directed observation) yakni supervisor mengobservasi langsung guru yang mengajar di kelas. Ini berarti supervisor harus, berada sama-sama dengan guru dalam kelas: Observasi dapat pula dilakukan dengan cara tak langsung (indirect observation) yakni supervisor dibatasi oleh ruang kaca dimana guru dan  murid-muridnya tidak mengetahuinya, atau dengan alat seperti kamera yang dapat dipantau dari dari jarak jauh. Tujuan observasi adalah untuk mungkin sehingga dengan data tersebut dapatlah digunakan dalam meng-          analisis kesulitan-kesulitan yang dalam usaha memperbaiki hal belajar mengajarnya. Bagi guru-guru, hasil analisis ini akan dapat membantu untuk merubah cara-cara mengajarnya ke arah yang lebih baik, sedangkan bagi murid-murid sudah tentu dapat menjamin timbulnya pengaruh positif terhadap kemajuan belajarnya.
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka supervisor harus mengetahui dengan jelas apa yang harus diobservasi. Dalam hal ini,         yang perlu diobservasi antara lain : usaha serta kegiatan guru dan murid dalam hubungan dengan penggunaan bahan dan alat pelajaran; usaha memperoleh pengalaman belajar; faktor lingkungan sosial, fisik sekolah, baik di dalam maupun di luar kelas serta faktor-faktor penunjang lainnya.
Instrumen yang paling sering digunkan dalam kegiatan observasi kelas pada umumnya digunakan “check-list”, yaitu merupakan suatu daftar pertanyaan yang berisi item-item yang memuat aspek-aspek tertentu untuk merekam data dalam melengkapi keterangan-keterangan yang lebih obektif terhadap situasi belajar mengajar di dalam kelas.
3)   Percakapan pribadi (Individual Conference)
Dijelaskan oleh Adam dan Dickey bahwa salah satu alat yang penting dalam supervisi adalah individual conference, yaitu supervisor dan guru dapat bekerja secara individual memecahkan problem-problem pribadi yang berhubungan dengan jabatan mengajar (personal and professional problems), misalnya: Pemilihan dan perbaikan alat-alat pelajaran, penentuan dan penggunaan metode mengajar, dan sebagainya.
Menurut Mildred E. Swearingen, ada beberapa jenis percakapan pribadi melalui kunjungan kelas adalah sebagai berikut:
(a)    Classroom-conference, yaitu percakapan pada saat murid-murid tidak ada lagi di kelas, misalnya pada waktu murid-murid beristirahat atau mereka sudah pulang. Percakapan ini tetap berlangsung di kelas dimana guru itu mengajar.
(b)   Office-conference, yaitu percakapan yang dilaksanakan di ruang kantor atau ruang kepala sekolah, atau ruang guru, dimana lingkungan fisiknya penuh dengan alat-alat pela­jaran yang               cukup. Misalnya dalam ruangan yang suasananya tenang dan menyenangkan, dimana ada gambar-gambar untuk menjelaskan sesuatu, atau data hasil penelitian dan sebagainya.
(c)    Gausal-conference, yaitu percakapan yang dilaksanakan secara kebetulan (tanpa direncanakan), misalnya sementara dalam pertemuan, atau dalam perjalanan pulang, dsb.
(d)   Observational-visitation, yaitu supervisor mengunjungi kelas dimana guru sedang mengajar, untuk mengobservasi ­kegiatan-kegiatan          kelas selama pelajaran berlangsung. Hasil observasi itu dibicarakan bersama-sama guru yang bersangkutan untuk mencarikan Jalan pemecahannya.
Tujuan diadakan percakapan pribadi itu antara lain sebagai berikut:
(a)  Memberi kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru-guru.
(b) Memupuk dan mengembangkan    hal mengajar yang lebih baik.
(c)  Memperbaiki kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan                yang sering dialami oleh  oleh guru dalam melaksanakan tugasnya          di sekolah, misalnya malas membuat  SAP, kurang membaca buku-buku terbaru, malas mengoreksi dan mengembalikan hasil pekerjaan murid-murid setelah ulangan, dsb.
(d) Menghilangkan dan menghindari segala prasangka (keragu-raguan) guru dalam berbagai masalah mengajar belajar, dsb.
4)   Saling mengunjungi (Intervisitation)
Yang dimaksud dengan intervisitation ialah saling mengunjungi antara rekan guru yang satu dengan rekan guru yang lain yang sedang mengajar untuk saling memberi dan menimba pengalaman di antara sesama rekan guru di sekolah (sekolah yang sama maupun pada sekolah yang berbeda.
Keuntungan yang dapat dipetik dari praktek intervisitation ini, antara lain :
(a)  Memberi kesempatan kepada guru mengamati rekan guru lain yang sedang memberi pelajaran, terutama dalam penggunaan metode mengajar baru (modern) dan lain sebagainya.
(b) Memberi motivasi yang terarah terhadap aktivitas mengajar guru           di kelas.
(c)  Membantu guru-guru yang ingin memperoleh pengalaman/ ketram-pilan mengajar tertentu (penggunaan metode, alat/media, pengelolaan kelas, ketrampilan bertanya) kegiatan instruksional lainnya yang penting untuk diketahui oleh guru-guru.
(d) Terbinanya hubungan yang akrab diantara sesama guru maupun dengan supervisor, sehingga diskusi dapat berlangsung secara wajar dan mudah mencari penyelesaiannya.
5)   Menilai diri sendiri (Self Evaluation Check-list)
Self evaluation adalah suatu teknik supervisi individual yang paling, obyektif tetapi yang paling sukar untuk dilakukan, apalagi jika dilakukan dengan kesadaran yang penuh untuk melihat kemampuan diri sendiri dalam menyajikan bahan pelajaran. Menilai orang lain rasanya mudah dilakukan, tetapi untuk menilai diri sendiri kadang-kadang tak mampu melaksanakannya, padahal yang paling, tahu tentang segala sesuatu  pada diri kita adalah kita sendiri bukan orang lain. Keadaan sesungguhnya yang terjadi sering dimanipulasi untuk menyatakan yang tidak wajar dan sebaliknya demi untuk memperoleh simpati atau penghargaan dan pujian dari orang lain, dsb.
Instrumen yang digunakan untuk menilai diri sendiri, sering digunakan adalah "check-list", yatu daftar pertanyaan yang disampaikan kepada guru-guru untuk memberikan pendapatnya tentang tugas mengajarnya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Biasanya check-list ini      disusun dalam bentuk pertanyaan, balk secara tertutup/secara terbuka tanpa mencantumkan nama dari responden atau identitas lain yang menimbulkan prasangka yang tidak-tidak dari responden.
2.   Teknik-teknik Supervisi yang bersifat kelompok (Group Techniques)
Teknik supervisi dalam bentuk kelompok adalah teknik  supervisi yang digunakan bersama-sama antara supervisor dan guru-guru dalam jumlah yang banyak tetapi mempunyai masalah supervisi ini terdiri dari beberapa jenis antara lain :
1)   Pertemuan Orientasi  bagi guru baru (Orintation Meeting for new Teacher)
Pertemuan orientasi adalah salah satu bentuk pertemuan yang bertujuan mengantar guru-guru terutama guru-guru untuk memasuki suasana kerja yang baru. Demikian pula terhadap guru-guru yang  baru memangku jabatan baru dalam struktur organisasi sekolah.         Hal-hal yang disajikan dalam pertemuan orientasi ini antara lain:
a.    Memberikan informasi perkenalan terhadap sistem kerja dari sekolah dengan melalui percakapan bersama diselingi dengan diskusi bersama.
b.    Proses dan mekanisme administrasi dan organisasi sekolah, penyajian seluruh kegiatan dan situasi sekolah.
c.    Tindak lanjut pertemuan ini biasanya diadakan diskusi, lokakarya, dan makan bersama dsb, agar guru-guru baru itu tidak merasa asing tetapi merasa diterima dalam kelompok guru lain.
d.    Memperkenalkan semua staf sekolah, tempat/ruang kerja, tata-tertib sekolah dan lain-lain sebagainya.
2)   Rapat Guru
Rapat guru adalah merupakan salah satu teknik supervisi untuk memperbaiki situasi belajar mengajar di sekolah. Tujuan umum daripada rapat guru ini antara lain sebagai berikut :
a.    Menyatukan pandangan-pandangan guru tentang konsep-konsep umum, makna pendidikan dan fungsi sekolah dalam usaha mencapai tujuan-tujuan tersebut.
b.    Mendorong guru-guru untuk menerima dan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, dan mendorong agar mereka tumbuh dan berkembang dalam jabatannya.
c.    Menyatukan pendapat-pendapat tentang metod-metode kerja yang baik yang akan membawa mereka ke arah pencapaian tujuan-tujuan pengajaran di sekolah semaksimal mungkin.
d.    Mengintegrasikan anggota-anggota staf sekolah dan mengkoordinir pekerjaan mereka, mempersatukan pandangan mereka dalam usaha kerjasama mencapai tujuan sekolah.
3)   Diskusi  sebagai proses kelompok
Diskusi adalah merupakan salah satu teknik supervisi yang dilakukan melalui pertukaran pendapat tentang sesuatu masalah untuk mengembangkan ketrampilan para guru dalam mengata­si kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi bersama. Melalui diskusi kelompok, guru-guru merasa turut bertanggung jawab dan berpartisipasi dalam kelompok, adanya interaksi antar guru, serta kontrol yang teliti dan mantap dalam mengemukakan pen­dapat mereka masing-masing. Dengan diskusi ini pula guru-gu­ru dapat memperoleh informasi dan banyak pengalaman dari peserta diskusi yang besar manfaatnya untuk pengembangan profesinya.
4)   Studi kelompok antar guru
Kelompok guru (guru bidang studi) yang mengajarkan mata pelajaran yang sejenis dapat mengadakan studi bersama untuk mempelajari dan membahas atau mendalami bahan pelajaran yang mereka ajarkan. Perencanaan studi ini harus dipersiapkan secara matang dan terperinci mengenai berbagai masalah yang akan dibicarakan, garis-garis besar materi pembahasan sehingga studi             ini lebih lancar dan tepat pada sasaran yang mereka inginkan bersama.
5)   Tukar-menukar Pengalaman (Sharing of experience)
Asumsi yang melatar belakangi  teknik ini ialah bahwa guru-guru, pada umumnya adalah orang yang berpengalaman dalam bidangnya masing-masing, sehingga memungkinkan diadakan tukar menukar pengalaman diantara mereka, saling memberi dan menerima dan saling, belajar diantara mereka untuk memperoleh pengalaman-pengalaman, baru yang bermanfaat dalam tugas mereka. Tukar-menukar pengalaman semacam ini lebih bermanfaat jika dibanding dengan penataran yang sering merupakan sesuatu pemborosan,         baik waktu, tenaga, biaya dan pikiran para pesertanya.
6)   Lokakarya (Workshop)
Workshop ditafsirkan orang sebagai suatu tempat kerja dimana orang menggunakan macam-macam cara alat untuk suatu; suatu kegiatan belajar kelompok untuk memecahkan suatu problem tertentu; suatu usaha mengembangkan kesanggupan berpikir dan bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan sesuatu masalah; suatu situasi          yang didalamnya orang bekerja dan belajar secara bersama atas tanggung jawab bersama; suatu inservice training education untuk           saling mendengarkan pendapat, member dan menerima pendapat bekerjasama mencari jalan untuk menyelesaikan suatu problem tertentu yang berhubungan dengan tugas jabatannya.
7)   Diskusi panel
Panel diskusi (panel discussion) biasa juga disebut dengan istilah "forum discussion" adalah suatu bentuk diskusi yang dipentaskan dihadapan sejumlah partisipan untuk memecahkan suatu problem. Peserta diskusi ini biasanya terdiri dari para panelis yang ahli dalam bidang yang didiskusikan, mode­rator (pengarah), expert (tenaga ahli= manusia sumber), penyangga/penanya, dan pendengar. Tujuarnya adalah:
a.    Untuk menjajaki suatu masalah secara terbuka agar supaya dapat memperoleh lebih banyak pengetahuan dan pengertian tentang masalah tersebut dari berbagai sudut pandangan.
b.    Untuk menstimulir para pendengar (partisipan) agar mengarahkan perhatiannya terhadap masalah yang dibahas, melalui dinamika kelompok sebagai hasil interaksi daripada pena‑list.
8)   Seminar
Seminar adalah suatu bentuk pertemuan kelompok dimana sejumlah kecil (10 - 15) orang mengadakan pendalaman/penyelidikan, terhadap berbagai masalah dengan bimbingan secara cermat oleh seorang/beberapa orang pengajar (fasilitator) pada waktu tertentu. Hasil penyelidikan selanjutnya dilaporkan untuk didengar dan didiskusikan untuk ditetapkan suatu kesimpulan bersama sebagai pegangan.
Tujuan daripada seminar ini adalah intensifikasi, integrasi serta aplikasi pengetahuan dan ketrampilan para anggota kelompok dalam suatu latihan yang intensif dengan bimbingan yang cermat dan intensif pula. Maksudnya untuk memanfaatkan sebaik mungkin produktivitas (potensi) berpikir secara kelompok berupa saling tukar-menukar pengalaman dan saling koreksi (menilai) diantara para anggota kelompok lainnya.


9)   Simposium
Simposium (Yunani Purba) syn (dengan) dan posis (minum), yaitu kebiasaan zaman itu setelah suatu pertemuan berakhir semua peserta tidak segera pulang, akan tetapi dipersilahkan duduk santai sambil minum, mendengarkan lagu-lagu dan bertukar pikiran sebagai hiburan intelektual. Simposium dalam arti yang lebih mutakhir dapat dilihat dari dua pengertian:
a.    Kumpulan karangan pendek yang menyangkut sesuatu masalah yang ditulis oleh beberapa ahli, dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku surnber rujukan.
b.    Suatu pertemuan untuk neninjau aspek-aspek dari suatu pokok masalah dari berbagai sudut pandangan  tentang masalah
tersebut di depan sejumlah pendengar.
Simposium bukan lagi merupakan penjajakan spontan, tetapi bertujuan untuk mengorganisir pengertian dan pengetahuan tentang berbagai aspek masalah, mengumpulkan dan membandingkan­nya  dari berbagai sudut pandangan yang berbeda-beda untuk memperoleh suatu pemahaman yang luas dan seragam untuk kepentingan bahan bacaan/dokumentasi pustaka.
10) Demonstration Teaching
Demonstrasi mengajar yang berhasil jika hal itu direncanakan dengan teliti, mempunyai tujuan yang nyata, diikuti o­leh jumlah guru-guru yang cukup banyak mendapat kesempatan untuk mengikuti demonstrasi tersebut. Biasanya setiap demonstrasi diadakan kecuali ada hal-hal baru yang perlu disampaikan kepada guru-guru, misalnya cara menggunakan metode mengajar modern, cara membimbing cara, menyajikan bahan untuk menjadikan siswa aktif dalam belajar dan sebagainya.
Guru-guru yang memperhatikan dan sadar akan tujuan demon-strasi tersebut, mencatat dengan teliti dan akan mendiskusikan hal tersebut dengan peninjau-peninjau lainnya (guru supervisor) setelah demonstrasi selesai diadakan.
Ada beberapa kelemahan yang terdapat dalam cara demonstrasi
a.    Perkembangan mengajar itu berpusat pada pusat minat suatu kegiatan yang membutuhkan waktu yang lama demonstrasi mengajar.
b.    Ketidak mampuan beberapa supervisor untuk mengadakan demon-strasi mengajar, padahal supervisor haruslah yang terpilih karena keprofesionalannya.
c.    Banyak guru enggan mengadakan demonstrasi atau membantu supervisor mengadakan demonstrasi mengajar.
11)  Perpustakaan Jabatan Guru
Untuk memperkaya dan mcmperdalam pengetahuan guru,  maka setiap sekolah seyogyanya mempersiapkan ruang khusus per-pustakaan jabatan guru tersebut yang berisi buku-buku, majalah, brosur, dan bahan-bahan bacaan lainnya yang telah diseleksi dengan teliti mengenai bidang studi tersebut. Ruang mana setiap guru dapat membaca dengan tenang sambil memperdalam pengetahuan tentang bidng studi yang diajarkan sehingga ia dapat bertumbuh dalam profesi mengajarnya. Guru-guru yang membaca banyak akan membantu memperkaya kemampuan mengajarnya.
Salah satu hambatan yang dihadapi sekolah dewasa ini ialah karena guru-guru cenderung mau berhenti untuk belajar.
12)  Buletin Supervisi
Buletin supervisi adalah salah satu alat komunikasi tertulis        yang supervisor untuk membantu guru-guru dalam memperbaiki  situasi belajar mengajarnya. Umumnya buletin supervisi itu dapat diklasifikasikan atas 3  jenis yaitu:
a.    Buletin yang berisi instruksi-instruksi yang umum dari supervisor untuk diketahui oleh guru-guru.
b.    Buletin khusus untuk guru-guru yang dipersiapkan mengikuti suatu rapat atau pertemuan berkala yang akan diadakan.
c.    Buletin yang berisi tindak lanjut sesuatu keputusan, program pendidikan dari kepala sekolah/supervisor dsb.
13)  Membaca langsung (Directed reading)
Teknik supervisi yang dianggap murah dan mudah dilaksanakan adalah membaca langsung pada perpustakaan umum atau di toko-toko atau pada perpustakaan sekolah yang menyediakan banyak sumber bacaan yang berhubungan dengan suatu bidang studi              atau pengetahuan profesi mengajar guru lainnya.  Untuk itu perlu        ada usaha peningkatan kegairahan membaca dikalangan para guru, karena hal ini bukan sekedar selingan/rekreasi tetapi sebagai alat pembinaan kemampuan mengajar.
Kesulitan psikologis yang sering dialami adalah harus ­cukup tersedia waktu untuk membaca, kurangnya motivasi intrinsik dan ekstrinsik dari guru-guru untuk menperdalam pengetahuan profesi-onalnya, karena volume tugas yang terlalu berat bagi guru-                guru sehingga seolah-olah mengalami kelumpuhan psikologis. Apalagi. setiap kali membaca harus dibuatkan resume, review atau laporan singkat dari basil bacaan itu.
14)  Mengikutl Kursus Kependidikan
Mengikuti kursus adalah suatu alat untuk mengembangkan profesi guru dalam PBM di sekolah. Tujuannya sebagai penyegaran dan sebagai usaha peningkatan pengetahuan, katrampilan dan sikap tertentu. Sebagai penyegaran karena guru-guru telah memiliki pengetahuan yang sudah terlalu lama dan bersifat ru­tin sehingga perlu diadakan penyegaran agar kegairahan meng­ajar dialihkan dari suasana rutin kepada situasi baru yang menyenangkan. Karena itu, penyegaran adalah suatu conditi sine qua none, merupakan variasi irama hidup dalam proses pengabdian  setiap guru. Bila kursus itu bersifat penataran, maka guru-guru akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan tambahan sehingga mereka akan mengalami peningkatan kemampuan dalam melaksanakn profesi mereka.
15) Organisasi Jabatan Guru (Professional organization)
Ikatan guru Indonesia (IGI atau PGRI) adalah wadah yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan profesional guru. PGRI adalah wadah yang  kuat pengaruhnya untuk inservice training        bagi guru-guru melalui kegiatan diskusi, tanya jawab, penataran, konsultasi, bahkan demonstrasi mengajar dan simulasi, simposium, seminar dan sebagainya perlu dikembangkan disitu. Karena wadah          ini akan menanamkan nilai-nilai sosial yang besar. pada guru-              guru, berkembangnya ide-ide praktis dan inspirasi-inspirasi baru dan bermanfaat bagi guru yang sukar diperolehnya melalui kegiatan           yang lain.
16) Curriculum Laboratory
Yang dimaksud dengan curriculum laboratory atau liberary adalah suatu tempat yang dijadikan pusat kegiatan belajar dimana guru-guru akan memperoleh sumber-sumber materi yang bermanfaat untuk menambah pengalaman mereka dalam rangka program inservice education. Koleksi dari contoh-contoh model pelajaran yang disajikan secara visual dapat diadakan, misalnya: Contoh-contoh perumusan TKP/TIK yang; baik; menyusun kegiatan belajar mengajar yang baik; penggunaan macam-macam metode mengajar, alat-alat pelajaran yang dapat dibuat guru; alat-alat tes yang baik; buku-buku pelajaran dan sebagainya.
Fungsi dari curriculum laboratory tidak hanya sebagai sumber materi tetapi juga sebagai tempat untuk guru-guru mengadakan penelitian, percobaan dan tempat belajar sambil bekerja baik secara individual maupun kelompok untuk memecahkan masalah belajar mengajar. Tujuannya untuk menyediakan sumber-sumber materi yang berhubungan dengan peningkatan PBM.
Sebenarnya koleksi pengalaman belajar dari tahun ke tahun dapat disusun/dikumpulkan oleh guru-guru secara teratur dan kontinyu untuk melihat perbandingannya. Misalnya bentuk-bentuk persiapan mengajar dari tahun ke tahun yang sering yang berubah, jenis-jenis tes yang pernah dibuat guru dari tahun ke tahun, buku pelajaran yang pernah digunakan guru dari tahun ke tahun, dan sebagainya.
17)  Perjalanan Sekolah untuk anggota staf (Field Trips)
Perjalanan sekolah adalah merupakan suatu alat atau teknik belajar bagi murid-murid dan mengajar bagi guru-guru di sekolah. Sekolah tradisional (convensional) sering mengadakan field trips        itu hanya sebagai selingan pelajaran, atau sebagai cara pelepasan lelah sesudah belajar mengajar selama beberapa waktu, atau saat dimulainya waktu liburan tertentu. Juga bahkan perjalanan sekolah hanya dilakukan oleh guru-guru yang malas dan segan memberi pelajaran dsb. Dengan demikian sekolah tradisional tidak pernah melakukan perjalanan sekolah sebagai teknik belajar. Lain halnya dengan sekolah modern yang mengakui betapa pentingnya perjalanan sekolah sebagai teknik belajar baik murid-murid maupun untuk guru-guru untuk memperkaya pengalaman belajarnya. 
Perjalanan sekolah dapat dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu:
Ekskursi (excursion), yaitu perjalanan sekolah yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan mempelajari sesuatu hal secaramenyeluruh.
Study trips, yaitu mempejari sesuatu hal yang tententu (khusus sifat).
Tour, yaitu perjalanan sekolah yang meliputi wilayah yang luas dan menekan waktu yang lama untuk mengembangkan kecakapan dan kemampuan guru dan murid dalam mempelajari berbagai sumber belajar tersebut.
Field trips mempunyai nilai-nilai (manfaat) sebagai berikut:
Memberi pengalaman langsung dengan belajar menggunakan segala macam dria. Satu field trip lebih berharga dari pada seratus gambar.
Membangkitkan minat baru atau memperkuat minat-minat yang telah ada.
Memberi motivasi kepacla guru-guru untuk menyelidiki sebab musabab sesuatu.
Menanamkan kesadaran akan masalah-masalah yang ada dan terdapat dalam masyarakatj serta memberi pengertian yang lebih luas tentang kehidupan dalam masyarakat.
Mengembangkan hubungan dengan masyarakat.
Sebagai suatu pcnyegaran dalam pembinaan profesi.
C.   PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN
Supervisi tidaklah merupakan suatu kegiatan tunggal, akan tetapi merupakan serangkaian kegiatan yang prosesnya berjalan secara sistematik, berencana (terprogram), teratur dan kontinyu untuk tercapainya tujuan yang dinginkan. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam pelaksanaannya tidak bisa terlepas dari proses inspeksi, walaupun kita tidak bersedia dan mau menerima inspeksi sebagai supervisi, akan tetapi pada hakekatnya proses supervisi berjalan di atas dasar inspeksi. Hal ini tidak dapat dihindari (dipungkiri) dalam kenyataannya setiap kali pelaksanaan supervisi selalu diawali dengan kegiatan inspeksi terlebih dahulu. Dengan kata lain inspeksi merupakan salah satu fungsi daripada supervisi. Apabila demikian, sekarang timbul pertanyaan : apakah setiap kali pelaksanaan supervisi selalu didahului dengan inspeksi sebelumnya ? Jawaban yang dapat diberikan untuk pertanyaan tersebut dapat dilihat dari dua sisi, yaitu disatu sisi dapat kita jawab ”ya” dan disisi yang lain ­dapat kita jawab "tidak". Mari kita analisis kedua alternatif jawaban tersebut  di atas.
Proses supervisi berdasarkan inspeksi
Pelaksanaan kegiatan supervisi prosesnya dapat dimulai dengan mengadakan inspeksi terlebih dahulu untuk mengumpulkan berbagai- data, mengolah data dengan ukuran yang telah ditentu­kan, dan kemudian menyusun suatu kesimpulan sebagai suatu konduite. Konduite, adalah hasil penilaian sepihak yakni berdasarkan pendapat pemeriksa dengan ukuran yang ada sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku. Apabila hasil pemeriksaan itu tidak ada       tindak lanjutnva bagi pembinaan atau pengembangan kemampuan profesional guru yang diperiksa, dan hanya dipakai untuk dasar kenaikan pangkat atau gaji berkala, permindahan dan konsekuensi lainnya, maka sampai disitulah batas daripada fungsi pemeriksaan (inspeksi). Tidak ada usaha peningkatan kemampuan bagi guru yang diperiksa berarti inspeksi semacam itu tidak dilakukan dalam rangka supervisi. Tetapi jika hasil inspeksi yang telah dilakukan (diperoleh)  itu dijadikan sebagai bahan masukan bagi pembinaan/pengembangan kemampuan profesioan guru yang diinspeksi, maka proses semacam itu dilakukan dalam rangka supervisi. Ini berarti setiap pelaksanaan supervisi diperlukan adanya inspeksi sebelumnya.
2.  Supervisi tidak didasarkan inspeksi
Supervisi adalah merupakan suatu usaha pembinaan kemampuan guru agar dapat berkembang dalam jabatannya, cenderung demokratis. Oleh karena itu, apabila dimulainya proses supervi­si dengan melalui persetujuan dan kerjasama yang akan disupervisi sebelumnya, tanpa diawali dengan kegiatan pemeriksaan terlebih dahulu, maka proses supervisi ini tidak didasarkan atas inspeksi. Sesuai dengan prinsip supervisi yang lebih banyak memerlukan partisipasi dan kerjasama dengan dengan para guru, maka supervisor dapat yang akan disupervisi untuk bersama-sama mempelajari masalah-masalah  yang banyak  dihadapi oleh guru-guru dalam PBM, bersa­ma-sama mencari dan menemukan faktor-faktor penyebabnya, dan bersama-sama pula mencarikan cara yang efektif untuk meng-atasinya melalui musyawarah mufakat untuk menemukan kesamaan.
Pendekatan supervisor semacam ini dapat dilakukan hanya dengan kegiatan sepihak saja oleh inspektur. Mengadakan observasi, kunjungan kelas, pemeriksaan, menelaah laporan saja tidaklah           cukup untuk menilai  seorang guru dengan segala masalahnya, tetapi diperlukan komunikasi edukatif yang langsung berhubungan dengan para guru, misalnya melalui pertemuan/percakapan pribadi, rapat guru atau kunjungan rumah dsb. Karena dalam proses supervisi dengan pertemuan/percakapan pribadi/kunjungan rumah (home visitation) antara supervisor dengan guru dapat terjadi interaksi edukatif            dan saling pengaruh mempengaruhi, ada sifat keterbukaan dan kekeluargaan yang mereka miliki dan mewarnai pertemuan itu, sehingga lebih memudahkan ditemukannya jalan keluar bagi peme-cahan satiap masalah yang dialaminya. Mengadakan observasi, kunjungan kelas, menelaah­ laporan, atau menyusun guru-guru mengikuti penataran saja belum  cukup untuk mengatasi  berbagai masalah yang dihadapi guru.
Supervisi suatu proses yang siklusnya berkepanjangan tidak kunjung selesai walaupun suatu saat supervisi sudah tidak diperlukan lagi dalam dunia pendidikan, supervisi tetap ada dan berlangsung sepanjang masa masih ada ma­nusia yang mau membina diri, belajar dan berkembang, kemampuannya. Supervisi tidak hanya diperlukan secara mendadak/mendesak untuk sesuatu keperluan khusus, untuk progress-raport atau untuk penyusunan sesuatu laporan pendidikan dan sebagainya.
Kepala sekolah dalam melaksanakan fungsinya selaku super- visor harus selalu terbuka mengajak para guru untuk menemukan, menyadari dan mengakui kelemahan-kelemahannya atau kekurangan-kekurangannya sendiri tanpa ada usaha memanipulasi. keadaan            yang dialaminya untuk menjaga harga diri (prestise) dan martabat yang sesungguhnya akan menyulitkan diri sendiri. Pendekatan yang bersifat kolegial dan interpersonal dalam supervisi pendidikan perlu diwujudkan oleh supervisor dan guru-guru.
Persoalan yang dihadapi adalah karena masing-masing guru mempunyai  kesulitan yang unik (khas) dengan. kadar nasalahnya yang bcrbeda-beda pula, sehingga pemecahannya memerlukan pendekatan yang berbeda-beda pula dan dengan cara sendiri-sendiri sesuai dengan jenis dan sifat masalah yang dialaminya. Disini diperlukan pendekatan dalam proses supervisi yang lebih bersifat pribadi dan khusus.
Proses supervisi sebelumnya dengan perumusan sesuatu masalah yang diduga timbul dan dialami oleh guru-guru di suatu sekolah atau kelas, selanjutnya diadakanlah penelitian untuk memperoleh data/ informasi yang berhubungan dengan masalah tersebut. Hasil pengum-pulan data akan dianalisis untuk menemukan kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan daripada guru-guru tersebut dan diusahakan cara-cara yang terbaik untuk mengatasinya, yaitu usaha untuk membantu guru-guru tersebut agar keadaannya dapat menjadi lebih baik sesuai yang diharapkan.
Dua  buah  bagan  di  bawah  ini   merupakan jawaban atas pertanyaan tentang proses supervisi melalui inspeksi disamping proses supervisi tanpa dimulai lebih dahulu dengan inspeksi. Proses supervisi ini dikemukakan oleh M. Moh. Rifai dalam Bukunya Administrasi dan Supervisi Pendidikan, 1982: 66-69

 







I N S P E K S I


 





S U P E R V I S I
Proses supervisi secara keseluruhan dalam rangka pembinaan kemampuan guru, digambarkan dalam bagan sebagai berikut:
1)  Pengumpulan data tentang keseluruhan situasi belajar mengajar:
-    Data murid-nurid/kelas;
-    Data guru setiap kelas/BS;
-    Data program pengajaran;
      -  Alat/media/fasilitas yang ada;
      -  Situasi dan kondisi kelas.

Teknik yang digunakan adalah:
-    Observasi kelas;Kunjungan kelas;
-    Pertemuan pribadi;
-    Studi laporan/dokumen
-    Kuesioner
     

2)   Penyimpulan/penilaian tentang:
-    Keberhasilan belajar murid;;
      -  Keberhasilan mmengajar guru;
      -  Faktor-faktor penunjang dan
         penghambat dalam PBM. 
   
Teknik yang digunakan:
-    Menentukan criteria bersama;
-    Rapat staf (guru);
-    Konsultasi dengan nara sumber.


3)  Deteksi kelemahan tentang:

-    Ketrampilan guru di depan kelas;
-    Penguasaan bahan/materi;
-    Penguasaan metode mengajar;
-    Hubungan antar personil;
-    Administrasi kelas.


Dengan cara:

-       Pertemuan pribadi
-       Rapat staf
-       Konsultasi dengan nara sumber/ ahli.


4)   Memperbaiki kelemahan/meningkatkan kemampuan dalam hal :

-          Kekurangan/kelemahan yang telah dite-mukan bersama.

Dengan cara :
-    Informasi langsung/tidak langsung
-    Demonstrasi
-    Tugas bacaan
-    Penataran.

5)  Bimbingan dan pengembangan dalam hal :

-          Penerapan hasil usaha peningkatan/ hasil penataran.

Dengan cara :
-    Kunjungan kelas;
-    Pertemuan pribadi;
-    Diskusi.
     

6)   Penilaian kemajuan dalam hal :

-          Perubahan yang telah tercapai sebagai hasil peningkatan dan bimbingan.

Dengan cara :
-    Kunjungan kelas;
-    Pertemuan pribadi;
-    Observasi, dan
-    Diskusi.
     

Berdasarkan bagan proses  supervisi di atas secara garis besarnya proses supervisi tersebut dapat dibedakan dalam tiga tahapan atau kegiatan pokok, yaitu :
(a)  Identifikasi kemampuan dan kelemahan guru yang disupervisi.
(b)  Bantuan kepada guru untuk rnieningkatkan kemanpuannva.
(c)  Bimbingan kepada guru bagaimana menerapkan kemampuannya yang telah ditingkatkan itu agar proses belajar dapat ditingkatkan lebih baik lagi.
Kegiatan pertama, dapat digunakan teknik kunjungan kelas, studi laporan/dokumen, data pribadi tentang guru, clan pertemuan pribadi supervisor dengan guru.
Kegiatan kedua, dapat digunakan teknik demonstrasi mengajar, pertemuan pribadi, diskusi, rapat staf, lokakarya antara guru yang sama bidang studinya, dan pertemuan pribadi.
Sedangkan kegiatan ketiga, dapat dilakukan dengan teknik diskusi, lokakarya, rapat  staf, pertemuan pribadi, inter-class – visit dan inter - school visit.
D.   PERANAN DAN SIKAP SUPERVISOR PENDIDIKAN
1.   Peranan Supervisor Pendidikan
Penyelenggaraan supervisi pendidikan ditujukan kepada pening-katan kualitas guru dalam PBM agar dapat meningkatkan mutu             hasil belajar murid di sekolah. Karena itu supervisi bukan untuk mengawasi guru, bukan untuk mencari kesalahan guru, bukan untuk mengoreksi guru,  bukan          untuk sekedar membuat konduite guru dengan maksud untuk kenaikan pangkat/kenaikan gaji berkala, penundaan kenaikan pangkat, pemindahan, promosi, pergeseran           dan sebagainya. Mungkin dalam supervisi terdapat unsur-unsur pengawasan, mencari kelemahan, memeriksa, menilai dsb, akan          tetapi semuanya itu baru merupakan tahap-tahap tertentu dalam keselu-ruhan proses supervisi penddikan yang sesungguhnya. Memang         untuk membantu meningkatkan kemampuan guru, diperlukan adanya bimbingan dan pengarahan, mungkin juga instruksi dan perintah,  akan tetapi semuanya itu bukanlah merupakan tujuan, supervisi          yang sesungguhnya melainkan hanya merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan supervisi pendidikan. Apakah peranan supervisi pendidikan itu. Jawaban atas pertanyaan tersebut  di atas terletak dari tugas  apa yang diperankan pada waktu itu, maka itulah peranannya. Untuk jelasnya ikutilah penjelasan beberapa peranan supervisor sebagai berikut:
a.   Peranan Supervisor selaku Pemimpin
Setiap pemirapin adalah orang yang mempunyai pengaruh dan dapat dipercayai untuk melaksanakan kepemimpinanya. Dengan  pengaruh tersebut supervisor dapat memimpin guru-gurunya, berusaha membantu meningkatkan kemampuan guru-gurunya, berusaha agar nasihatnya, atau saran-sarannya, bahkan dituruti atau ditaati oleh guru-guru yang dipimpinnya. Pelaksanaan supervisi yang dapat menimbulkan perubahan cara berpikir, bersikap dan bertingkah laku yang positif yang memungkinkan dapat ditingkatkannya kemampuan guru-guru dalam melaksanakan tugasnya. Supervisor harus dapat membantu guru-guru agar mereka dapat berkembang dalam lebih percaya pada diri sendiri, lebih bertanggung jawab, lebih tumbuh dalam jabatannya, sehingga akhirnya dapat berdiri sendiri dan dapat menjadi pemimpin pula. Fungsi supervisor yang berusaha menimbulkan kepemimpinan pada diri orang yang dipimpin itulah peranannya sebagai pemimpin.
b.   Peranan Supervisor  sebagai Peneliti
Supervisor dalam melaksanakan fungsi penelitian yang berusaha untuk memperoleh data-data yang lebih lengkap  dan obyektif serta relevan, dengan maksud untuk:
(a)   Menemukan sebab-sebab yang menghambat proses dan hasil belajar;
(b)   Mencari dan menemukan cara/teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi atau mencegah kesalahan dan mening-katkan proses belajar mengajar;
(c)   Memperoleh data yang dapat digunakan untuk menyusun program peningkatan kualitas (kemampuan) guru-guru tersebut.
Dalam keadaan demikian supervisor mempunyai peranan sebagai peneliti. Hasil penelitian selanjutnya memungkinkan        akan diadakannya kegiatan-kegiatan dalam rangka peningkatan kemampuan guru-guru melalui penataran, pendidikan lanjutan, pendidikan dan latihan, magang, pemberian tugas membaca, dsb.
c.    Peranan Supervisor sebagai Pelatihan dan Pembimbing
Supervisor yang memanfaatkan hasil penelitian untuk memberikan bimbingan dan latihan melalui kegiatan diskusi, demonstrasi, tugas-tugas pembinaan lainnya sebagai usaha peningkatan kemampuan profesional sesuai kebutuhan dan guru-guru yang dibimbingnya. Setelah bimbingan dan latihan, supervisor harus selalu memberikan dorongan serta petunjuk-petunjuk bagaimana menerapkan/mengaplikasikan hasil-hasil latihan yang telah mereka peroleh. Dalam hal demikian peranan supervisor disebut sebagai pelatihan dan bimbingan.
Peranan ini pentingnya, karena pada prinsipnya tidak semua orang yang berpengetahuan dan terampil tetapi  belum dapat dijamin bahwa ia akan mampu mengaplikasikan kemampuan tersebut dalam tugasnya sehari-hari.


d.   Peranan Supervisor sebagai Nara Sumber dan Pelayanan
Peranan supervisor juga sebagai nara sumber bagi mereka  yang disupervisi, ia merupakan sumber nasihat, sumber pengetahuan, sumber petunjuk, sumber ide, sumber informasi,  dan sebagainya yang dapat memberikan bantuan/pelayanan kepada guru-guru yang membutuhkannya. Guru-guru yang kurang menguasai penyusunan TKP/TIK misalnya, mungkin karena petunjuknya terlalu singkat dan penataran yang pernah diikutinya terlalu singkat dan materinya tidak cukup jelas, maka supervisor harus berusaha dan bersedia memberikan petunjuk-petunjuk, membantu mereka agar kebutuhan akan penyusunan TKP/TIK yang baik dapat mereka susun dengan sebaik-baiknya. Atau dapat pula supervisor menunjukkan nara sumber lain, atau nuku-buku relevan dengan keperluan penyusunan TKP/TIK tersebut, dan sebagainya.
e.   Peranan supervisor sebagai koordinator
Kemampuan setiap guru tentu berbeda  dengan guru lain baik bakat, perhatian, minat, lingkungan hidup maupun latar belakang pendidikannya. Walaupun demikian semua guru tetap menyadari bahwa mereka bekerja untuk tujuan yang sama, yaitu mening-katkan kualitas pendidikan dan pelajaran di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang baik.  Supervisor dalam fungsi ini ia harus dapat membantu guru-guru yang mengalami kesulitan tertentu, baik guru yang kurang menguasai metode belajar tertentu, guru yang kurang mampu bergaul dengan sesama guru lainnya, guru yang kurang beres administrasi kelasnya, dan sebagainya agar mereka dapat bekerja sama dengan baik diantara mereka. Supervisor perlu membagi perhatiannya secara adil, merata, dan arif bagi semua guru-guru, mengatur/mengkoordinir cara kerja mereka, mengkoordinir pembagian tugas yang proposional dengan kemampuan mereka, sehingga tercipta suasana dan sikap kooperatif dari guru-guru tersebut. Dalam keadaan demikian inilah supervisor berperanan sebagai koordinator.
f.     Peranan Supervisor sebagai Evaluator
Untuk meningkatkan kemampuan guru secara optimal, eva­luasi dalam supervisi sangat diperlukan, untuk mengetahui sampai sejauh mana guru-guru telah dapat melaksanakan tugas tugasnya, segi-segi apa saja yang masih memerlukan bimbing­an dan perbaikan. Karena itu supervisi tidak  dapat berlang­sung tanpa dilakukan evaluasi (penilaian) terlebih dahulu.
Evaluasi  (penilaian) dalam supervisi tidak sama halnya dengan penilaian dalam ujian dan inspeksi yang dilakukan sepihak untuk menguji kemampuan guru-guru yang selanjutkan diwujudkan dalam bentuk konduite. Evaluasi dalam supervisi lebih diarahkan pada kerjasama guru dan supervisor mengemukakan temuan berbagai kekurangan/kelemahan, yang selanjutnya bersama-sama pula mencari cara yang terbaik untuk memeperbaiki kelemahan/ kekurangan tersebut, menemukan hal-hal yang perlu ditingkatkan dan bagaimana cara meningkatkannya dan sebagainya.
Evaluasi dalam supervisi lebih bersifat kooperatif, dilakukan atas dasar kerjasama supervisor dengan guru-guru yang disupervisi       itu sendiri dalam seluruh proses evaluasi sampai kepada proses pengolahannya. Karena dengan cara demikian guru-guru akan menyadari berbagai kelemahan dan kekurangannya, sehingga ia akan lebih sungguh-sungguh berusaha meningkatkan dirinya tanpa tekanan dan paksaan dari supervisor ataupun dari orang lain.
Berdasarkan peranan-peranan supervisor tersebut di atas, maka secara umum dapat dikatakan bahwa peranan supervisor ialah sebagai pemberi suport (supporting), membantu (assisting),            dan mengikut-sertakan (sharing) guru-guru dalam proses dan hasil supervisi pendidikan. Dengan demikian, supervisor harus berperan lebih aktif menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru lebih merasa aman dan bebas dalam mengembangkan potensi dan daya kreasinya dengan baik. Karena kebanyakan   guru-guru seolah-olah mengalami kelumpuhan psikologis tanpa inisiatif dan kreativitas, sebagai akibat dari sikap supervisor           dalam meletakkan interaksi dan interelasi yang bersifat mematikan kemungkinan-kemungkinan berkembangnya kemampuan guru-guru di sekolah.
2.   Sikap-sikap supervisor pendidikan
a.   Supervisor yang bersifat korektif
Mengoreksi kelemahan dan kesalahan orang lain adalah sesuatu yang mudah, tetapi lebih sulit bila dilihat dari segi-segi positif dalam hubungan dengan hal-hal yang baik. Ini suatu ciri yang perlu dikembangkan. Supervisor yang pekerjaannya hanya menari kesalahan/kelemahan orang lain adalah suatu permulaan usaha yang tidak berhasil (gagal). Suatu kekurangan harus diartikan sebagai suatu penemuan suatu usaha ke arah perbaikan dalam keseluruhan usaha. Sebagai supervisor, ia perlu menyadarai sepenuhnya bahwa mencari kesalahan orang lain sangat bertentangan dengan prinsip dan tujuan supervisi itu sendiri.          Sikap supervisor yang demikian ini akan mengakibatkan guru-guru akan merasa kurang aman (beni terhadap pelaksanaan supervisi) karena dapat melumpuhkan inisiati dan kretivitas guru-guru sehingga mereka akan bersikap menentang bahkan acuh-tak-acuh terhadap supervisor itu sendiri.
b.   Supervisor yang bersifat preventif
Usaha supervisor untuk memperbaiki keselahan/kelemahan guru yang telah terjadi mungkin terlalu sulit jika dibandingkan dengan usaha untuk mengatasi sebelum hal tersebut terjadi. Anggapan supervisor yang demikian adalah supervisor yang bersifat preventif, yang selalu berusaha sedemikian rupa untuk memperkecil efek-efek yang mungkin terjadi untuk menolong guru-guru agar mempersiapkan diri bila mereka menghadapi kesulitan. Supervisor yang demikian ini selalu berusaha dengan penuh kepercayaan diri mencegah berbagai kesulitan yang mungkin timbul guna menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
c.    Supervisor yang bersifat konstruktif
Supervisor yang konstruktif selalu berusaha mengajak guru-guru mengarakan perhatiannya pada kegiatan-kegiatan yang bersifat konstruktif bagi tercapainya tujuan-tujuan yang, positif dan nyata serta mempunyai nilai tambah yang besar manfaatnya bagi pembinaan dan pertumbuhan jabatan guru. Supervisor yang konstruktif selalu memandang masa depan yang lebih baik daripada masa lampau, dengan mengembangkan per­tumbuhan lebih banyak daripada memindahkan kesalahan; menanamkan kepercayaan dan menumbuhkan semangat dan kegairahan kerja guru lebih banyak daripada menciptakan suasana yang dapat melumpuhkan kemampuan guru-guru dalam melaksanakan tugasnya. Usaha untuk mendorong pertumbuhan guru-guru dalam jabatannya adalah suatu sikap yang konstruktif.
d.   Supervisor yang bersifat kreatif
Supervisor yang bersifat kreatif selalu meinberikan penekanan dalam perabinaannya lebih besar pada kebebasan guru-guru menghasilkan ide-ide baru inisiatif dan kreativiLtas, dalam melaksanakan tugasnya, dan kemampuan berpikirnya se­hingga dapat mencapai hasil kerja yang lebih produktif, efektif dan efisien. Sikap ini sesuai dengan tujuan daripada supervisi itu sendiri, yaitu memberikan kebebasan dan tanggung jawab kepada guru-guru untuk dapat menemukan dirinya sendiri (kemampuannya atau kelemahannya) dan berikan pula kebebasan untuk menemukan sendiri jalan keluar pemecahannya berda­sarkan petunjuk dan bimbingan supervisor. Tugas supervisor dalam keadaan demikian adalah memberikan dorongan (motivasi instriksik) untuk dapat menimbulkan daya kreasi bagi pertumbuhan jabatan guru-guru yang dibinanya.

E.   KETERAMPILAN SUPERVISOR PENDIDIKAN
Untuk dapat melaksanakan fungsi secara efektif dan efisien, seorang supervisor pendidikan hendaknya memiliki ketrampilan-ketrampilan (skills) tertentu. Ketrampilan mana oleh Kimball Wiles mengklasifikasikan atas 5 (lima) ketrampilan harus dimiliki oleh supervisor pendidikan, yaitu :
1.   Ketrampilan  dalam Kepemimpinan
Dalam proses kepemimpinan seorang supervisor mampu menempuh cara-cara kerjasama dengan guru-guru yang dipimpinnya, yaitu sebagal berikut :
a.    Menyusun rencana dan kebijaksanaan bersama.
b.    Mengadakan anggota kelompok (guru-guru) turut serta dalam berbagai kegiatan.
c.    Memberikan bantuan kepada guru-guru apabila mereka meng-hadapi dan memecahkan berbagai persoalan.
d.    Menimbulkan dan memupuk semangat kerja (moral kerja) yang tinggi pada guru-guru.
e.    Mengikut-sertakan semua guru-guru (staf) dalam menetapkan keputusan-keputusan yang penting di sekolah.
f.     Membagi-bagi dan mendelegasikan tugas dan tanggung jawab kepada semua staf sekolah. Ini berarti melepaskan tanggung jawab.
g.    Mempertinggi inisiatif dan daya kreatif pada guru-guru.
h.    Menciptakan suasana dimana  setiap orang tidak takut menyim-pang dari hal-hal yang rutin dapat menghilangkan rasa malu dan rendah diri pada guru yang lain, dan berani mengemukakan pendapatnya demi  kepentingan bersama.
i.     Agar tanggung jawab yang diemban itu lebih jelas bagi setiap guru, maka mereka perlu ditolong untuk menyebarkan dan menganalisis setiap tanggung jawab secara operasional.
2.   Keterampilan dalam hubungan insani/manusiawi (human relation)
Hubungan antar manusia atau hubungan insani ini pada garis besarnya dapat pula dibedakan atas:
a.   Hubungan pribadi
Berkat terjalinnya hubungan pribadi antara sesama guru yang akan merupakan sahabat karib yang dapat sa­ling membuka hati dan menerima diri masing-masing.
b.   Hubungan fungsional
Hubungan yang didasarkan atas fungsi atau tugas yang dijalankan. Jenis hubungan ini sering disebut pula dengan hubungan profesional, yakni hubungan dalam rangka jabatan yang dipangku. Misalnya hubungan antara dosen dan mahasiswa atau antar guru dengan murid dsb. Hubungan ini pula disebutkan dengan hubungan dinas, yaitu hubungan yang dilakukan dalam rangka kedinasan.
c.    Hubungan instrumental
Hubungan ini didasarkan atas pandangan “memperalat” orang-orang yang disupervisi (guru-guru) untuk melaksanakan kehendak atasannya (supervisor).
d.   Hubungan konvensional (tradisional)
Hubungan ini dilakukan atas dasar kebiasaan, tradisi/adat kebiasaan yang berlaku dan berkisar pada hal-hal yang bersifat rutin. Hubungan karena kebiasaan ini misalnya seorang bawahan wajar memberi “salam” kepada pimpinannya (atasannya) dan sebaliknya.
Kunci keberhasilan supervisor dalam melaksanakan supervisi sebagian besar terletak pada kemampuan supervisor membina hubungan baik dengan bawahannya. Karena membina hubungan yang baik dengan bawahan adalah merupakn suatu penghargaan terhadap pribadi mereka yang disupervisi. Hal ini nampak dalam bentuk :
a.    Memaafkan suatu kekeliruan dan menjadikannya suatu pelajaran untuk perbaikan pada hari-hari berikutnya,  baik bagi dirinya sendiri maupun bagi guru-guru yang disupervisinya.
b.    Mengubah sikap guru-guru yang tidak demokratis dan mem­bantu mengatasi kekurangan dan kesulitan yang mereka hadapi, baik bagi mereka yang malas, merasa rendah diri, acuh tak acuh, pesimistis, maupun bagi mereka yang tidak mempunyai pandangan dan sikap yang nyata dan positif terhadap tugas pekerjaan mereka.
c.     Memupuk saling hormat-menghormati diantara sesama mereka, dan berusaha menghilangkan rasa curiga mencurigai diantara sesamanya.
d.    Memberikan perhatian terhadap ide-ide dan saran-sran mereka, perhatian terhadap masalah-masalah yang mereka alami, dan bersedia melayani kepentingan mereka terbuka.
e.    Menciptakan kondisi-kondisi kerja yang menarik dan memuaskan dan berusaha mendorong kegiatan-kegiatan sosial guna terjalin relasi-relasi yang akrab diantara mereka.
f.     Mengadakan pertemuan-pertemuan yang, memungkinkan mereka saling bertukar pendapat dan mengenal satu sama lain.

3.   Ketrampilan dalam proses kelompok (group process)
Kepala sekolah selaku supervisor dalam fungsinya ia harus mampu menciptakan suasana dimana semua orang yang disupervisi merasa terlibat dan berada dalam proses kerjasa­ma untuk tujuan bersama. Dalam kondisi demikian, supervisi harus memiliki ketrampilan-ketrampilan dalam:
a.    Membangkitkan semangat kerjasama dalm kelompok dengan mengikutsertakan mereka dalam : merumuskan tujuan bersama, merencanakan bersama, mengambil keputusan bersama, dan bertanggung jawab bersama dalam pelaksanaan tugas-tugas kependidikan.
b.    Mengenal anggota kelompoknya, sehingga mengenal kelemahan-kelemahannya atau kemampuannya masing-masing.
c.    Memupuk dan memelihara sikap percaya mempercayai antara sesama anggota maupun antara anggota dengan pimpinannya, memperbesar rasa tanggung jawab dalam pelaksanaan tugas-tugasnya serta memupuk kesediaan mereka tolong menolong.
d.    Mempergunakan cara-cara yang bijaksana dan arif untuk memper- kecil bahkan menghilangkan pertentangan-pertentangan yang mungkin timbul diantara para anggotanya, dsb.
4.    Keterampilan dalam administrasi personil (personal administration)
Masalah utama yang sangat penting dalam administrasi personil ialah pembinaan staf agar terus-menerus tumbuh dan berkembang dalam jabatnnya. Dalam usaha pembinaan ini kepala sekolah selaku super-visor harus memiliki ketrampilan dalam hal:
a.    Memilih personil yang memenuhi kulifikasi untuk pekerjaan tertentu yang diperlukan dan ditempatkan sesuai dengan kecakapan atau kemampuan yang dimilikinya.
b.    Mengusahakn suasana kerja yang baik sehingga daya kreatifitas personil dapat tumbuh dan berkembang, sehingga mereka merasa telah memberikan sumbangan yang berharga dalam rangka mencapai tujuan.
c.    Dalam pembinaan, supervisor harus selalu mendasarkan diri pada prinsip belajar berlangsung terus menerus baik di tempat dimana mereka bekerja maupun di tempat lain melembaga sebagi usaha peningkatkan kemampuan staf sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kepegawaian umumnya dan personil sekolah khususnya.
5.   Ketrampilan dalam evaluasi (evaluation)
Penilaian dimaksudkan ialah untuk mengetahui sampai sejauhmana suatu pekerjaan sudah dilaksanakan atau sampai dimana tujuan       telah tercapai. Hal inidapat dilakukan terhadap penilaian proses maupun penilaian terhadap hasil kerja tersebut. Supervisor di bidang pendidikan harus memiliki kecakapan dengan mempergunakan prosedur dan teknik-teknik evaluasi. Dengan penguasaan tersebut ia dapat membantu guru-guru yang disupervisinya dalam mengambil keputusan-keputusan yang lebih bijaksana. Karena itu evaluasi harus  mengandung ketrampilan dalam:
a.    Merumuskan tujuan dan norma-norma guna mempertimbangkan berbagai perubahan, untuk hal ini ia perlu menguasai dan memahami tujuan-tujuan secara khusus dan terperinci.
b.    Menguasai teknik-teknik pengumpulan data agar dapat mem-peroleh data yang akurat dan dapat diolah.
c.    Menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian, sehingga mendapatkan gambaran tentang kemungkinan-kemunkinan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan seperlunya.
Evaluasi sifatnya komprehensif  (banyak dan luas) tidak hanya menyangkut cara guru menerapkan kemampuannya, atau prosesnya yang dievaluasi, tetapi juga kemajuan murid sebagai hasil penerapan Itu. Dengan demikian evaluasi pendidikan meliputi proses, produk dan pelaksanaan dalam supervisi itu.
F.    BEBERAPA CONTOH INSTRUMEN SUPERVISI PENDIDIKAN
1.       Lembar Observasi Kelas
Tujuan lembar observasi ini adalah untuk mencatat data tentang proses belajar mengajar. Fungsinya agar dapat menggambarkan sampai taraf mana tingkat keberhasilan seorang guru dalam mengembangkan sistem instruksional dengan menggunakan pola/model satuan pelajaran (SAP).
Cara pengisian, kriteria pengukuran serta cara pengolahan hasil observasi tersebut adalah sama seperti pada Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Sekolah (Bagian 1, hal.135-136). Kecuali mungkin dari setiap guru yang diobservasi akan beda-beda tingkat kemampuannya berdasarkan aspek-aspek penilaian dalam lembar observasi tersebut (lihat lembar S1).












LEMBAR OBSERVASI ( S.1 )
1. Sekolah              : ……………………………..
2. Nama guru          : ……………………………..
3. K e l a s              : ……………………………..
4. Bidang Studi       : ……………………………..
5. Pokok Bahasan    : ……………………………..

No.
Aspek-aspek yang diobservasi
A
B
C
D
E
1.


2.

3.


4.


5.

6.

7.


8.

Merumuskan tujuan pelajaran secara operasional ( TKP / T= ).

Kegiatan belajar murid-murid.

Kreatifitas murid dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

Cara mengorganisasi-kan kegiatan be­lajar mengajar (metode mengajar ).

Penggunaan alat-alat/media pelajar­an.

Penggunaan tes : a. Subyektif
                          b. Obyektif

Pelayanan terhadap murid-murid yang nengalami
kesulitan belajar (BK).

Reaksi mental guru dalam melayani murid-murid.






Rata-rata jumlah






                                                                   Tanggal, ……………………….
Guru yang diobservasi,                                   Yang mengobservasi,

……………………………….                                   ……………………………………..
Lembar observasi pada instrumen (S1) di atas mungkin pernyataan tentang aspek-aspek yang diobservasi kurang Tujuan driri check-list ini ialah agar guru dapat menilai diri­nya sendiri dalam hal :
a.    Mengenal prosedurpengembangan sistem instruksional (PPSI) dan menerapkannya melalui model satuan pelalaran (KSP/SAP).
b.    Mengenal dan mengemukakan prinsip-prinsp perumusan TKP/TTK.
c.    Melihat dan jelas dalam komponen-komponen dalam sistem belajar
mengajar.
LEMBARAN S.2
EVALUATION CHEK LIST
No.
Aspek-aspek yang dinilai
Ya
Tidak
1.

2.
3.
4.
5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.
17.
18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.
Mengenal secara kegiatan dari setlap langkah         dalam PPSI.
Mengenal komponen-komponen dalam PBM.
Membedakan  TKP/TIK dengan TUP/TIU.
Mengemukakan 4 kriteria dalam merumuskan TIK.
Memberi contoh yang tepat untuk masing-masing kriteria.
Membedekan TIK/TKP yang dapat diukur daripada yang tidak dapat diukur.
Mengemukakan contoh TIK/TKP yang bersifat ingatan (recall).
Mengemukakan contoh TIK/TKP yang bersifat pe­mahaman (memahami).
Mengemukakan contoh rumusan yang bersifat aplikasi.
Membedakan pengalaman belajar daripada kegiatan  belajar.
Dapat menyusun secara metodis kegiatan guru dan persiapan murid dalam dalam persiapan mengajar.
Membuat alat-alat peraga sendiri untuk mata pelajaran yang saya ajarkan.,
Menstimulasi kreativitas murid selama pelajaran berlangsung
Melayani kebutuhan dan minat tiap-tiap murid.

Mengemukakan fungsi dari input tes dan tes of entering behavior.
Menyusun tes-tes obyektif secara mahir.
Menyusun tes-tes subyektif atas a10 macam/jenis Menghitung rata-rata (mean) dari hasil tes untuk seluruh kelas dalam satu mata pelajaran.
Mengadakan diagnosis hasil tes murid yang telah dihitung secara statistik
Menguasai dengan sungguh-sungguh materi dan cara pendekatan dari pelajaran yang diberikan.
Merangsang dan menimbulkan kegairahan belaar murid-murid.
Melihat dengan jelas tujuan yang ditetapkan telah tercapai.
Menggunakan sumber-sumber belajar yang cu­kup dan relevan.
Melihat segi-segi positif maupun negatif dalam PBM yang dilaksanakan.
Memutuskan berhasil tidaknya kegiatan belajar mengaiar yang dilaksanakan dan menentu­kan tindak lanjut untuk kegiatan berikutnya.

















Ya



























Tidak



J u m l a h



Cara Mengisinya :
Guru diminta untuk memberi tanda Check (V) dlbelakang tiap
pertanyaan yang sesuai dengan pendapatnya ( yes atau tidak).
Jumlah semua pertanyaan = 2-5 dan tiap pertanyaan diberi­ biji 4, sehingga bijinya menjadi 25 x 4 = 100.
Dengan menggunakan nilai presentase pada skala di bawah ini dapatlah kita melihat sampai dimana kemampuan guru dalam menguasai PPSI yang diterapkan dalam model satuan pelajaran.
Contoh : Seharusnya semua guru menjawab semua pertanyaan atas dengan jawab "ya", maka tidak ada persoalan bagi untuk mencari tingkat kemampuan guru-guru tersebut. Tetap seandainya check-list tersebut       di atas ternyata misalnya hanya ada 9 pertanyaan yang dijawab "ya" berarti 9 x 4 = 36 % sedangkan selebihnya 16 pertanyaan dinyatakan "tidak", berarti  16 x 4 = 64 %. Ini berarti 64 % dari seluruh pertanyaan tidak dikuasai oleh guru-guru tersebut. Karena itu maka pervisor harus membantu guru-guru pada bagian-bagian tertentu dari PPSI yang belum dikuasai guru sesuai dengan guru sesuai dengan hasil check-list tersebut.


 
                                            36%  ya


 
                 0              25            50             75            100%
                                        Tidak        64%  

Cara yang serupa dapat  diterapkan dalam menilai diri sendiri (self evaluation check-list) atau aktivity check-list proses belajar mengajar guru. Pertanyaan-pertanyaan yang ada mengenai aktifitas/keaktifan yang dilak-sanakan guru selama berlangsungnya PBM. Tujuan chek-list ini ialah agar guru dapat melihat dirinya sendiri, apakah ia melaksanakan keaktifan itu atau tidak. Contoh chek-list untuk menilai diri sendiri adalah sebagai berikut:
SELF EVALUATION CHECK LIST
No.
Kegiatan-kegiatan guru selama mengajar
Ya
Tidak
A.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

11.

12.
13,

B 1.
2.
3.

C 1.
2.
3.
4.

D 1.
2.

3.
4.
5.


E 1.
2.
3.

F 1.
2.
3.

4.


G 1.
2.
3.

4.

5.


H 1.
2.
3.
4.
Selama mengajar saya melaksanakan
Mengajukan pertanyaan yang tepat
Mengajukan pertanyaan pikiran
Mengajukan pertanyaan tentang fakta-fakta Mengajukan pertanyaan pendalaman
Mengajukan pertanyaan distribusi
Mengajukan pertanyaan menuntun
Memancing pertanyaan dari pihak murid
Mengajukan pertanyaan dari buku pelajaran Mengembalikan pertanyaan kepada murid-murid. Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara klasikal
Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara individual
Menjelaskan dan membaca dari buku
Membiarkan buku terus tertutup

Memberi tugas-tugas pada permulaan pelajaran Memberi tugas-tugas selama pelajaran berlangsung Memberi tugas-tugas pada akhir pelajaran






 
Melatih murid selama pelajaran berlagsung
Melatih murid sebelum pelajaran berlangsung
Melatih murid-murid secara individual
Melatih murid-murid secara kelompok






 
Menulis di papan tulis sebelum pelajaran di mulai
Menulis di papan tulis selama/sementara memberi tugas pada murid-murid
Membuat bagan di papan tulis /manila karton Menjelaskan sambil menulis di papan tulis
Menulis pertanyaan dan catatan lain di papan tulis secara teratur






 
Menggunakan bahan illustrasi
Menerangkan bahan-bahan pelajaran
Memberi penjelasan kepada murid-murid






 
Mengeritik murid secara konstruktif
Mengeritik murid secara deduktif
Mendorong murid cecara individual untuk menilai dirinya sendiri
Mendorong murid secara kelompok untuk menilai dirinya sendiri

Memimpin percakapan dengan murid-murid Menerangkan kepada murid - murid
Mencela murid yang sedang diskusi untuk mem­beri saran
Mencela murid yang sedang diskusi untuk
menunjukkan kesalahan
Mencela murid yang sedang diskusi untuk mengajukan pertanyaan






 
Sering tersenyum simpul
Kebiasaan tersenyum
Mengerut, bermuka masam dan menggertak murid
Membentuk bermacam-macam disiplin  




J u m l a h



AKVITAS DAN EFEKTIVITAS GURU  (SIKAP PROFESIONAL)
No.
Aktivitas-aktivitas guru
A
B
C
D
E
A.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

B.
1.
2.
3.
4.

C.
1.

2.

3.

4.

5.


D.
1.
2.
3.
4.

E.
1.
2.
3.
4.

F.
1.
2.
3.



G.
1.
2.
3.
4.
5.

H.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.
8.
Kehadiran guru di sekolah/kelas:
Datang ke sekolah tepat pada waktunya
Ikut serta dalam upacara-upacara bendera
Ikut serta dalam rapat-rapat di sekolah
Ikut serta dalam kegiatan-kegiatan kurikuler
Ikut serta dalam P E N L 0 K
Hadir di sekolah/kelas sesuai jadwal pelajaran Tidak hadir dengan memberitahukan

Tugas mengajar:
Menyiapkan jadwal waktu mengajar
Menyiapkan program satuan pelajaran
Menyiapkan catatan analisis hasil belajar
Ikut memecahkan kesulitan belajar murid

Hubungan kerjasama:
Ikut membantu kepala sekolah dalam memecah-kan masalah
Ikut membantu rekan-rekannya memecahkan masa­lah yang dihadapi (dialaminya)
Ikut memberi informasi kepada orang tua murid dalam hal kesulitan belajar anaknya
Ikut menciptakan hubungan yang baik dengan selama guru dan karyawan sekolah lainnya
Ikut menciptakan hubungan kerjasama yang baik dengan lingkungan sosial sekolah

Kepribadian:
Ruang dan sikap humor (mudah tersenyum)
Ramah tamah terhadap semua orang di sekolah  Sikap sopan santuan dan disiplin
Mempunyai sikap terbuka dan tidak pendendam

Penampilan:
Kebersihan berbusana dan rapih
Kebersihan badan
Keserasian busana dengan lingkungan
Mempunyai rambut yang tidak gondrong

Kemampuann berbahasa:
Lancar dan kaya perbendaharaan kata-katanya Kecepatan bercakap dan kejelasannya
Menggunakan kata dan istilah yang tepat
memiliki kemampuan menjelaskan
Mudah dimengerti oleh murid-murid

Penguasaan materi pelajaran:
Penguasaan fakta-fakta dan prinsip-prinsip
Kemampuan mempergunakan dan memban-dingkan
Kemampuan memberikan contoh yang tepat
Kemampuan menjawab pertanyaan murid

Keterampilan:
Memahami murid dengan kebutuhan/masalahnya Trampil menyelesaikan materi pelajaran
Trampil mengkomunikasikan pengalaman belajar
Trampil mengajukan pertanyaan kepada murid
Trampil menggunakan metode mengajar
Trampil menyusun rencana belajar secara sistematis
Trampil dalam mengelola kelas
Trampil dalam menggunakan alat-alat pelajaran 






_



_







_



_



_




_



_












_



_







_



_



_




_



_












_



_







_



_



_




_



_












_



_







_



_



_




_



_












_



_







_



_



_




_



_







I.
1.
2.

3.
4.
5.

J.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

K.
1.
2.
3.
4.

L
1.
2.
3.
4.

5.
6.

M.
1.
2.
3.
4.

N.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

O.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Q.
1,
2.
3.
4.

5.
6.
7.
8.

Metode mengajar:
Menggunakan metode mengajar dengan tepat Menggunakan prinsip-prinsip psikologis tentang dorongan
Menggunahnn multy media dan multy metoda Memahami tujuan pendidikan dalam kurikulum, Menggunakan metode mengajar bervariasi

Keterlibatan siswa (murid):
Kesiapan mengikuti pelajaran
Kesungguhan mengikuti pelajaran
Keaktifan mengikuti pelajaran
Minat mengikuti pelajaran
Kesembirann mengikuti pelajaran
Kerjasama antar siswa dalam PBM

Perencannan pelajaran:
Kejelasan merumuskan tujuan pelajaran
Pengembangan meteri sesuai kurikulum/GBPP Kesesuaian bahan pengajaran dengan silabus Kelengkapan buku-buku sumber bahan pelajaran

Alat peraga :
Tersedianya alat peraga yang memadai
Penggunaan alat peraga dalam PBM
Penataandanpemeliharaan alat peraga
Kemampuan menginterasikan alat peraga de­ngan materi pelajaran
Kualitas alat peraga yang digunakan
Kemampuan meggembangkan alat peraga baru

Pekerjaan murid:
Ketepan memberi tugas kepada murid-murid
Ketelitian memeriksa dan memberi nilai
Kebersihan pekerjann
Tindak-lanjut hasil penilaian pekerjaan

Kesediaan membantu:
Kesediaan membantu siswa yang bermasalah Kegiatan bimbingan perorangan
Kegiatan bimbingan kelompok
Interaksi dengan lingkungan:
Kerjasama dengan teman sekerja
Kerjasama dengan siswa
Keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan sek.
Partisipasi dalam kegiatan masyarakat

Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling:
Kelengkapan pengisian kartu pribadi
Penggunaan alat pengumpulan data/tes
Ketepatan menggunakan alat pengumpul data
Sistem pengarsipan data pribadi murid
Cara mengidentifikasi masalah murid
Cara membantu memecahkan masalah murid
Pengaturan pelayanan program BK.
Cara yang tepat dalam memberi informasi
Pelaksanaan pelayanan dan penilain BK.
Pelaporan hasil pelaksanaan BK.

Suasana kelas:
Selalu memelihara disiplin kelas
Memberi kepercayaan dan tanya jawab murid
Memperhatikan keluhan dan usul murid
Mengusahakan pembentukan kebiasaan di antara murid-murid
Menghargai partisipasi murid dalam belajar Menciptakan suasana kelas yang tertib
Selalu memelihara lingkungan fisik kelas
Suasana kelas yang menarik 





_




_



_





_



_






_







_












_




_



_





_



_






_







_












_




_



_





_



_






_







_












_




_



_





_



_






_







_












_




_



_





_



_






_







_








J u m l a h



















PERTANYAAN LATIHAN
1.    Jelaskan pendekatan-pendekatan apa saja yang terdapat dalam supervisi pendidikan !
2.    Bedakan (bandingkan) supervisi klinis dan pendekatan non klinis. Mengapa pendekatan ini disebut pendekatan klinis.
3.    Dalam pendekatan supervisi kelompok dan pendekatan individual terdapat teknik-teknik supervisi kelompok dan teknik-teknik supervisi individual.
  1. Sebutkan teknik-teknik supervisi dari kedua jenis dekatan tersebut.
  2. Mengapa disebut teknik kelompok dan individual ?
4.  Apa keuntungan (segi positif) dan kelemahan (segi negatif) dari observasi kelas dan kunjungan kelas ? Dimana letak perbedaan antara observasi kelas dan kunjungan kelas ? Jelaskan jawaban anda !
5.  Teknik mana yang paling tepat menurut anda bila masalah yang harus diselesaikan bersifat pribadi ? Mengapa demikian ? Kemukakan alasan anda.
6.  Didalam proses pelaksanaan supervisi pendidikan terdapat sebagian kegiatan yang bersifat inspeksi. Jelaskan pendapat anda :
a.    Kapan pelaksanaan supervisi itu diperlukan adanya peksi dan kapan inspeksi tidak diperlukan dalam sanaan supervisi pendidikan ?
b.    Kemukakan masing-masing sebuah contoh konkrit yang menunjukkan pentingnya inspeksi dalam pelaksanaan vise pendidikan dan contoh yang menunjukkan pada mana inspeksi tidak diperlukan dalam proses supervisi.
c.    Kapan pelaksanaan supervisi pendidikan diperlukan dekatan klinis dan kapan diperlukan pendekatan non klinis.
d.    Kapan pendekatan supervisi lengkap perlu dan kapan pendekatan tak lengkap dilaksanakan ?
7.    Jelaskan kegiatan-kegiatan mana saja yang menunjukkan bukti tentang peranan supervisor dalam pelaksanaan pendidikan, dan apa nama peranannya pada saat itu ?
8.    Uraikan secara singkat perilaku supervisor pendidikan menunjukkan sikap tertentu dalam pelaksanaan supervisi ?
9.    Jelaskan secara singkat keterampilan mana yang perlu dikuasai oleh setiap supervisor pendidikan ?
10. Andaikan anda selaku seorang supervisor, dengan menggunakan lembar observasi (S.1) mengobservasi Yang sedang mengajar di kelas. Hasil menunjukan pengecekan sbb : Nomor aspek 1 = C, 2 = B, 3 = D, 4 = A, 5 = B, 6 = C, 7 = B dan 8 = E maka,
a.  Berapa nilai rata-rata yang diperoleh
b.  Apa kesimpulan anda setelah melihat hasil observasi tersebut ?
c.  Tindak-lanjut apa yang anda ambil untuk mengadakan pembinaan terhadap guru tersebut ?
11. Seandainya check-list (lembar S.2) anda edarkan kepada  guru-guru  yang anda bina (20 orang guru). Guru A, memberikan jawaban ya = 11 dan tidak = 4. Sedangkan guru yang lain (19 orang) rata-rata menjawab ya = 14, dan tidak = 11, maka :
a.  Berapa hasil/tingkat kemampuan yang ada tetapkan untuk guru A,  dan beberapa tingkat kemampuan untuk semua guru tersebut di atas (20 orang).
b.  Buatlah skala dan isikan hasil kemampuan guru tersebut di atas, baik untuk guru A dan untuk semua guru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar